Minggu, 20 Maret 2016
kutipan "Novel".
ketika senja tak secarah hari ini, mungkinkah masih ada tersisa harapan untuk menyaksikan senja esok atau esok lusa yang seindah hari ini. setiap hari masti akan mengukir ceritanya sendiri, karena setiap langkah pasti akan meninggalkan jejak. hari ini dibawah senja yang syahdu, indah dipandang mata, menyejukkan dan membawa kedamaian, mengusir penat dan letih seharian, aku menikmati senja bersama pikiran yang penuh dengan pertanyaan yang menggelantung, menari-nari indah di atas kepaku. ketika senja tak secarah hari ini, akankah meninggalkan luka, kepedihan dan kerinduan. entahlah.... biarlah waktu atau senja itu sendiri yang akan menjelaskannya. meskipun aku tak tahu caranya bagaiman ia akan menjelaskannya, namun biarlah aku berharap setidaknya harapan itulah yang saat ini menjadi pengobat keresahan hatiku saat ini. aku bahagia aku gembira aku senang karena kudapati dirimu yang tertawa lepas, matamu yang memancarkan kebahagian dan eksperisimu yang penuh dengan sukacita. hari ini terakhir aku menikmati senja yang indah ini. mungkin besok tak akan kujumpai lagi karena hatiku yang terlanjur di terpa badai, gelap teramat gelap hingga aku hanya melhat hitam disekelillingku, semuanya menjadi abu tidak jelas, hanya menysahkan pedih yang tak mampu ku jelaskan. entah apa yang terjadi. bahkan senja hari ini tak mampu menjelaskan keelokannya. aku tergeletak tanpa daya, semua mata tertuju padaku, kini perhatian persisi jatuh padaku. semuanya gelap, pedih, sakit yang teramat sakit tak mampu lagi aku tahan, kenyataan ini termat menyakitkan, apalah arti senja yang indah ini semuanya hancur dalam sekejap, kala kudapati kenyataan aku dan kamu yang dulu menjadi kita kala senja, kini kembali menjadi aku dan kamu kembali persis saat senja tiba. senja kini aku tak lagi ingin menyaksikannya... aku ingin ia segera berlalu karena aku tak lagi menyukainya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar