Sabtu, 12 Maret 2016

Opini: LGBT



LGBT
fenomena LGBT kini tengah ramai diperbincangkan khususnya di indonesia. mungkin jika di As misalnya, kasus LGBT tidaklah seheboh ini. bahkan LGBT merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja. di eropa juga demikian, bahkan di beberapa negara di Asia juga menganggap LBGT sebagai hal yang lumrah. di AS misalnya pernikahan sesama jenis telah di sahkan karena merupakan salh satu hak asasi manusia yang harus dilindungi.
namun, ini bukanlah di AS, EROPA, atau negara-negara yang sepaham dengan mereka. ini indonesia yang beridiologikan pancasila. LGBT jelas telah bertentangan dengan idiologi dan nilai-nilai kehidupan bangsa indonesia. di indonesea hubungan resmi/sah yang dikenal iyalah hubungan suami istri antara laki-laki dengan perempuan. dan tidak di izinkan atau diberlakukan hubungan/pernikahan sesama jenis karena telah menyalahi kodrat alam.
bukan sesuatu yang layak untuk di dukung atau di biarkan hidup tumbuh dan berkembang di tengah-tengan masyarakat karena jelas akan memberikan dampak yang buruk, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang tengah mengalami pertumbuhan. namun tidak menutup kemungkinan pula akan memberikan dampak negatif bagi yang dewasa, karena godaan dan pengaruh yang berkembang dan perlahan menjadi budaya akan berimbas buruk di kemudian hari tanpa megenal bats usia.
sebut saja, perkembangan teknologi, gadjet budaya sosmed, dari kalangan anak-anak bahkan samapi yang tua bak terhipnotis. kini kita memiliki dua dunia yaitu dunia maya dan dunia nyata. bahkan sekarang ibarat dunia nyata lebih tersa maya sedang dunia maya seakan adalah dunia kita yang sesungguhnya. hal tersebut karena waktu kita yang semakin banyak tersita oleh kehidupan di dunia maya.
hal serupa dapat pula terjadi pada kasus LBGT, tidak menutup kemungkinan, jika hal ini terus terjadi tanpa ada tindakan yang tegas, beberapa tahun kemudian kasus LBGT akan semakin meningkat di dukung dengan tingkat pergaulan yang semakin bebas dan tidak terarah. nilai-nilai kehidupan kini mulai ditanggalkan, anak-anak jaman sekarang menganggapnya sebagai budaya kuno yang tak lagi jamannya.
olehnya itu, sebelum terlambat penindakan dan pencegahan secara dini harusnya dilakukan dari sekarang terhadap kasus LBGT. pelaku LBGT harusnya di tuntun dan di arahkan, karena di sisi lain mereka juga merupakan korban yang butuh bimbingan, perhatian dan kasih sayang.
mungkin LBGT adalah pilihan hidup mereka, tapi di hati mereka ada keinginan untuk lari, tapi daya mereka melawan tak jua sampai. karenanya, kita harus lebih dekat dengan mereka, bukan menjauh atau mengucilkan mereka, bukan menghina atau mengolok-olok mereka. kita harus bisa menjadi teman yang bisa membuat mereka nyaman dan percaya bahwa mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal seperti layaknya manusia lain pada umumnya.
usaha kita harus 1000% lebih besar daripada mereka, kita tidak boleh kalah dan menyerah terhadap pelaku-pelaku LBGT, karena mungkin mereka demikian oleh faktor hilangnya kepercayaan diri mereka yang tidak mampu lagi mereka kendalikan dan godaan yang tidak dapat merka tahan. kehidupan keras yang mereka jalani, kerapuhan, rasa sakit dan luka yang mereka derita yang tak bisa lagi dibendung dan tak mampu lagi mereka simpan. kekuatan mereka untuk berdamai yang mulai rapuh dan terkikis oleh derasnya ombak pengaruh lingkungan dan pergaulan bebas, seks bebas yang menggiurkan  yang menjadi ladang pelampiasan mereka.
optimisme kita untuk membantu mereka, jelas akan memberikan pengaruh yang positif bagi mereka. karena mereka bukanlah krininilitas yang harus di benci dan dijahui. mereka bukanlah kotoran yang harus di buang dan di singkirkan, mereka bukanlah parasit yang harus di bunuh. mereka sama seperti kita yang pada umumnya mencari kedamaian dan kebahagiaan hidup hanya cara dan jalan kita yang kemudian tak searah, bukan berarti kita tidak akan lagi sejalan. karena kemungkinan di jalan berikutnya kita akan disatukan kembali, hinggah langkah kita akan terarah pada jalan yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar